Rabu, 04 Juli 2012

IPA atau IPS

0 komentar
Di  SMA  pihak sekolah telah menetapkan bahwa murid2 dengan IQ tinggi bisa masuk ke jurusan IPA, sedangkan yang IQ nya sedang hanya masuk jurusan Sosial dan yang paling rendah IQ nya hanya diijinkan masuk ke jurusan Bahasa.

Aturan itu berlawanan sekali dengan aturan di SMA swasta terkenal di Yogyakarta yang justru mengarahkan anak-anak dengan IQ tinggi untuk masuk ke jurusan Bahasa.

Almarhum Romo Mangun Wijaya mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia sampai saat ini masih mewarisi "budaya" kolonial Belanda. Menurut beliau, seharusnya anak-anak yang kecerdasannya tinggi justru sebaiknya diarahkan untuk masuk jurusan Sosial agar di masa depan akan lahir para ekonom, hakim, jaksa, pengacara, polisi, diplomat, duta besar, atau politisi-politisi yang hebat.

Tetapi hal itu tidak dikehendaki oleh Belanda waktu itu. Belanda hanya menginginkan agar anak-anak yang cerdas tidak memikirkan masalah sosial politik, tetapi hanya diarahkan untuk menjadi tenaga ahli, ilmuwan, arsitek, ahli matematik, dokter, dsb yang pada intinya tidak membahayakan posisi penguasa. 

Sampai saat ini, masih banyak orang tua dan masyarakat yang beranggapan bahwa anak yang hebat adalah anak yang nilai matematika dan IPA nya tinggi. Paradigma berpikir orang tua seperti ini akan sangat berpengaruh pada anak tentang arti kesuksesan. 

Pada bulan Juni 2003 yang lalu, dalam sebuah seminar anak-anak, Kak Seto Mulyadi menunjukkan 5 orang Rudy. 

1. Rudy Habibie (BJ Habibie), seorang ahli pesawat terbang dan menjadi presiden.
2. Rudy Hartono, seorang juara bulu tangkis kelas dunia.
3. Rudy Salam, seorang pemain sinetron yang gateng, terkenal dan kaya.
4. Rudy Hadisuwarno, ahli tata rambut dan ahli kecantikan yang sukses.
5. Rudy Choirudin, si jago masak yang sering memandu acara memasak di TV.

Ketika ditanya Rudy yang mana yang paling sukses?, hampir semua anak menjawab, Rudy Habibie. Alasan anak anak itu adalah karena bisa membuat pesawat terbang, dan bisa menjadi presiden. 

Ketika ditanya Rudy yang mana yang paling tidak sukses?, hampir seluruh anak menjawab, Rudy Choirudin. Alasannya adalah karena Rudy Choirudin hanya bisa memasak.

Begitulah pola pikir dan pola asuh dalam keluarga dan masyarakat Indonesia yang pada umumnya masih menilai kesuksesan dari karya-karya besar yang dihasilkannya. Masyarakat kita banyak yang belum bisa melihat arti sukses berdasarkan sebuah bakat yang berkembang. Bila dikembangkan secara tepat sebuah bakat dapat menjadi sandaran hidup.

Anak-anak dan orang tua harus menyadari dan mensyukuri setiap bakat yang diberikan oleh Tuhan. Bila bakat tersebut dikembangkan dengan baik, maka bisa membuat seorang anak meraih sukses di bidang yang justru sangat disukainya. Untuk anak-anak yang tidak pintar matematika, tidak perlu minder, dan juga orang tua tidak perlu malu karenanya.

Anak-anak yang lebih menyukai pelajaran menggambar dari pada pelajaran lain, bukanlah anak-anak yang bodoh karena justru anak2 yang punya imajinasi tinggilah yang pintar menggambar atau melukis. Anak-anak yang suka ngobrol, kalau diarahkan dengan benar bisa saja kelak menjadi politisi atau negotiator yang ulung. Anak-anak yang banyak bicara, kalau diarahkan untuk menuliskan apa yang ingin dibicarakan bisa menjadi penulis yang hebat.

Kita harus meyakini bahwa Tuhan menciptakan setiap individu dengan maksud-NYA yang terbaik. Dengan meyakini hal ini kita patut mensyukuri setiap bakat yang telah dianugerahkan-NYA kepada kita dan memanfaatkanya dengan sebaik-baiknya

0 komentar:

Poskan Komentar